Bayi prematur kurang dari 37 minggu usia kehamilan dan bayi cukup bulan dengan berat lahir rendah (kurang dari 2500 gram), dengan beberapa pengecualian, seharusnya mendapatkan imunisasi rutin seperti yang diperoleh bayi-bayi lain sesuai usia kronologisnya. Usia kehamilan dan berat lahir bukanlah faktor penghalang bagi seorang bayi prematur yang sehat dan stabil untuk mendapatkan imunisasi sesuai jadwal.

Walaupun beberapa penelitian menunjukan respon imunitas yang kurang terhadap beberapa vaksin yang diberikan pada bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram dan bayi yang kurang dari 29 minggu usia kehamilan, sebagian besar bayi prematur, termasuk bayi yang menerima dexametason (steroid) untuk pengobatan penyakit kronik paru, mampu membuat sistem kekebalan yang dipicu oleh vaksin untuk mencegah penyakit. Dosis vaksin pun seharusnya tidak dikurangi atau dibagi-bagi.

Bayi prematur dan bayi dengan berat lahir rendah mempunyai toleransi yang sama seperti bayi cukup bulan terhadap sebagian besar vaksin. Kejadian henti napas dilaporkan pernah terjadi pada bayi dengan berat lahir kurang dari 1000 gram atau usia gestasi kurang dari 31 minggu setelah pemberian vaksin DTP, tetapi tidak pernah dilaporkan pada pemberian vaksin DTaP. Meskipun demikian, pada pemberian vaksin pneumokokus (PCV7) bersamaan dengan DTP dan Hib pada bayi prematur dilaporkan kejadian kejang demam yang ringan yang lebih sering jika dibandingkan dengan bayi cukup bulan. Gangguan jantung dan pembuluh darah, seperti henti napas dan penurunan denyut jantung disertai penurunan oksigen meningkat kejadiannya pada bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram yang diberikan kombinasi vaksin DTaP, IPV (polio suntik), Hepatitis B dan Hib. Meskipun demikian, kejadian-kejadian ini bukanlah sesuatu hal yang berbahaya bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi yang diimunisasi.

Bayi prematur yang secara medis stabil dan masih dirawat di rumah sakit saat 2 bulan usia kronologisnya seharusnya diberikan semua vaksin yang direkomendasikan pada usia tersebut. Bayi prematur dikatakan stabil secara medis adalah bayi yang tidak memerlukan manajemen berkelanjutan untuk infeksi serius, penyakit metabolik atau gangguan ginjal akut, gangguan jantung dan pembuluh darah atau gangguan saluran pernapasan dan bayi prematur yang menunjukkan perbaikan dan pertumbuhan yang stabil.

Semua vaksin yang harus diberikan pada usia 2 bulan dapat dilakukan secara simultan baik pada bayi prematur maupun bayi dengan berat lahir rendah. Untuk mengurangi banyaknya suntikan dapat diberikan vaksin kombo. Jika tidak dapat dilakukan secara simultan karena terbatasnya area suntikan, maka pemberian vaksin boleh dipisah dengan interval waktu kapan saja karena vaksin yang diberikan merupakan vaksin yang inaktif. Akan tetapi, untuk menghindari reaksi lokal yang tumpang tindih, interval yang dianggap rasional adalah 2 minggu. Ukuran jarum yang digunakan untuk menyuntikkan vaksin ke dalam otot tergantung dari massa otot tempat suntikan akan diberikan.

Semua bayi prematur dan bayi dengan berat lahir rendah beresiko terhadap penyakit pneumokokus yang invasif. Oleh karena itu, apabila secara medis stabil pada usia 2 bulan bayi-bayi ini harus menerima dosis penuh vaksin PCV7 (data artikel ini diambil dari data di Amerika Serikat-American Academy Pediatric). Begitu pula halnya dengan vaksin DTaP, mengingat angka kejadian pertusis yang fatal meningkat pada bayi-bayi di bawah usia 6 bulan.

Vaksin Hepatitis B yang diberikan kepada bayi prematur dan bayi dengan berat lahir lebih dari 2000 gram menimbulkan respon imun yang mirip dengan respon imun yang timbul pada bayi cukup bulan. Oleh sebab itu, bayi dengan berat lahir 2000 gram yang stabil secara medis dengan ibu HBsAg negatif boleh diberikan dosis pertama vaksin Hepatitis B segera setelah lahir. Untuk yang tidak stabil, dapat ditunda sampai kondisi klinisnya stabil. Sementara untuk bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2000 gram, imunisasi dengan vaksin Hepatitis B segera setelah lahir ternyata memberikan respon imun yang kurang jika dibandingkan dengan bayi cukup bulan ataupun bayi prematur yang lebih dari 2000 gram. Meskipun demikian, bayi prematur yang lahir dari ibu dengan HbsAg positif memiliki perlindungan dari komplikasi perinatal yang mungkin timbul akibat penyakit Hepatitis B jika diberikan vaksin Hepatitis B tanpa melihat berat lahirnya. Dari beberapa penelitian didapatkan 2 hal yang dapat dijadikan faktor prediksi terhadap kesuksesan munculnya antibodi terhadap Hepatitis B setelah dilakukan vaksinasi, yaitu: usia kronologis bayi prematur yang stabil secara medis saat pertama kali menerima dosis pertama vaksinasi Hepatitis B tanpa melihat berat lahir maupun usia kehamilan saat lahir dan penambahan berat badan yang konsisten sebelum menerima dosis pertama vaksin Hepatitis B.

Bayi dengan berat kurang dari 2000 gram yang secara medis stabil dan menunjukkan penambahan berat badan harus mendapatkan dosis pertama vaksin Hepatitis B secepat-cepatnya saat usia 30 hari tanpa melihat usia kehamilan atau berat lahirnya. Bayi prematur dengan berat kurang dari 2000 gram yang cukup sehat sehingga diperbolehkan meninggalkan rumah sakit sebelum usia 30 hari boleh diberikan vaksin Hepatitis B saat meninggalkan rumah sakit. Memberikan vaksin Hepatitis B dosis pertama saat usia bayi 1 bulan tanpa melihat beratnya memberikan pilihan untuk menjalankan imunisasi selanjutnya sesuai jadwal, mengurangi jumlah injeksi simultan imunisasi yang diberikan saat usia 2 bulan, memberikan perlindungan dini terhadap bayi prematur yang harus ditransfusi dan dioperasi dan menurunkan transmisi penularan secara horisontal dari carier Hepatitis B di dalam keluarga, pengunjung rumah sakit dan petugas medis lainnya. Penelitian juga menunjukkan bahwa semakin awal vaksin Hepatitis B diberikan maka semakin besar kemungkinan untuk menyelesaikan vaksin-vaksin yang lain tepat waktu.

Semua bayi prematur dan bayi dengan berat lahir rendah yang lahir dari seorang ibu dengan HbsAg positif harus menerima Imunoglobulin Hepatitis B (HBIG) dalam 12 jam sesudah lahir dan vaksin hepatitis B (lihat penjelasan mengenai vaksin Hepatitis B di atas). Jika status HbsAg ibu tidak diketahui, maka bayi harus mendapat vaksin Hepatitis B sesuai rekomendasi untuk bayi yang lahir dari ibu dengan HbsAg positif. Bayi prematur dan bayi dengan berat lahir rendah yang diberikan vaksin Hepatitis B saat lahir harus diberikan 3 dosis tambahan.

Hanya vaksin Hepatitis B monovalen yang boleh digunakan saat bayi berusia 6 minggu atau kurang. Memberikan dosis vaksin Hepatitis B monovalen saat lahir sementara kombinasi vaksin yang mengandung vaksin Hepatitis B digunakan berarti bahwa bayi tersebut akan mendapatkan total 4 dosis. Kombinasi vaksin yang mengandung komponen Hepatitis B belum pernah diteliti mengenai keamanannya untuk diberikan pada bayi dengan ibu yang HbsAg positif.

Karena semua bayi prematur dianggap memiliki resiko terhadap komplikasi influenza, 2 dosis vaksin inflluenza inaktif dengan jarak 1 bulan harus ditawarkan kepada orang tua bayi untuk diberikan ke bayi saat berusia 6 bulan sebelum musim influenza dimulai. Karena sebab itu pula, maka orang-orang yang berkontak dengan bayi tersebut harus mendapatkan vaksin influenza inaktif. Bayi prematur yang kurang dari 32 minggu usia kehamilan dan bayi dengan penyakit paru kronik dan kondisi jantung pembuluh darah tertentu sampai usia 2 bulan mungkin mendapat manfaat dengan profilaksis untuk infeksi RSV (palivizumab) selama musim infeksi RSV. Palivizumab tidak mempengaruhi vaksinasi rutin lainnya untuk bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah.

Sumber: AAP (American Academy of Pediatrics)
Artikel diatas dari data-data di Amerika Serikat.

3 responses »

  1. kautsar mengatakan:

    Tentang imunisasi, positif dan negatifnya dapat anda peroleh artikel lengkapnya dengan download di http://www.ziddu.com/downloadlink/1933388/KumpulanArtikelKesehatanIbuBayidanBalitav1.1.rar

  2. Dina mengatakan:

    Anak saya lahir prematur dengan berat badan 1500grm,32 minggu. Menurut dokter,dia bisa imunisasi setelah 3 kg.sementara sekarang anak saya sudah 2 bulan dan berat badan masih 2kg. Apa yang harus kami perbuat menyangkut dengan imunisasi untuk anak saya. Terimakasih

  3. Nuning Purwaningsih mengatakan:

    Dear Mbak Dina
    mohon maaf saya hanya sharing artikel saja, jadi bukan seorang dokter. kebetulan anak saya prematur dgn BB 2kg. tapi sjk lahir hingga dia self weaning (saat 23 bln) tetap saya beri ASI. ASI ini lumayan mendongkrak perolehan BBnya. di bulan pertama, BB naik 1.3 kg, sehingga naik jadi 3.3 kg, bulan kedua sudah 4 kg … dan begitu seterusnya. mgkn mbak bs coba memberi asi ke anak mbak? karena formulasi ASI untuk anak prematur berbeda utk anak mature. terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s