Seorang teman yang tengah hamil 4 bulan bercerita kalau ia berencana ganti dokter. Bukan lantaran pelayanan medis sang dokter tidak memuaskan melainkan rumah sakit tempat dokter tersebut praktik jauh dari rumah. Tapi ternyata prosedur untuk ganti dokter/pindah tempat periksa tidak sesederhana yang ia kira. Menurut pengalaman teman-temannya, ada dokter yang tidak menerima pasien pindahan dan itu memang dialaminya. Untung ada solusinya. Ia meminta surat rujukan dari ginekolog sebelumnya. Berhasil, ia diterima sebagai pasien.

Sudah beres sampai di situ? Ternyata belum. Untuk memperoleh rekam medis miliknya dari rumah sakit terdahulu ternyata memerlukan perjuangan tersendiri. Pihak rumah sakit keberatankarena rekam medis itu takut disalahgunakan.

HAK PASIEN VS HAK DOKTER

Mudah dimengerti bila teman tadi jadi sewot. Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI), dr. Marius Widjajarta, S.E, mengakui prosedur ganti dokter di Indonesia repotnya memang minta ampun. “Saat memeriksakan diri ke dokter yang baru biasanya pasien harus menja-lankan proses diagnosis atau pemeriksaan dari awal. Itu kan

berarti pasien mesti menge-luarkan biaya dobel yang sebenarnya tidak perlu.”

Padahal kejadian ganti dokter/pindah tempat periksa kerap dialami ibu hamil, Satu hal yang ditekankan Marius, untuk ganti dokter/pindah tempat periksa merupakan hak pasien dalam mendapatkan pelayanan medis. “Tidak bisa ada yang melarang, menghalangi, dan mencegah pasien melakukan itu, apa pun cara dan alasannya.”

Namun juga merupakan hak setiap dokter/rumah sakit/klinik untuk menolak kehadiran pasien baru, kecuali dalam keadaan emergensi, seperti ibu hamil sudah pecah ketuban, keluar vlek, perdarahan, apalagi tidak sadarkan diri, “Untuk kasus-kasus darurat dokter wajib melakukan pertolongan. Wajib bagi dokter, pihak rumah sakit atau klinik yang menerima pasien, menghubungi dokter si ibu untuk meminta medical record,” ujar Marius.

Semua ini diatur dalam UU Perlindungan Konsumen No 8 tahun 1999. Tapi untuk kebaikan si pasien sendiri, saran Marius, ibu hamil sebaiknya tidak pindah-pindah dokter, kecuali dalam keadaan mendesak.

Toh kalau pun terpaksa akan ganti ginekolog, berterus teranglah pada yang bersangkutan. “Jelaskan bahwa ibu akan pindah tempat periksa disertai alasannya, entah itu soal jarak, biaya atau lainnya. Sebagai dokter, jika pasien sudah meminta haknya, dokter wajib mengabulkan permintaan si pasien,” urai Marius. Dokter biasanya akan memberikan surat rujukan (pada dokter pengganti) dan disertai medical record. Hal ini agar dokter pengganti mengetahui riwayat kehamilan ibu sejak awal.

Umumnya surat rujukan akan lebih mempermudah prosedur. Tapi kalaupun hal itu tidak membuat ibu diterima sebagai pasien, terpaksa ibu mencari dokter lain.

ATURAN BELUM JELAS

Kembali pada soal rekam medis, Marius berkata bila ada dokter/rumah sakit yang merasa keberatan akan keputusan pasien yang akan ganti dokter/pindah tempat periksa sehingga “menahan” rekam medis pasien yang bersangkutan, penyebabnya tidak bisa disamaratakan. Bisa karena tidak tertibnya dokumentasi medical record di rumah sakit/klinik yang bersangkutan atau alasan-alasan lain, seperti tidak ingin kehilangan pemasukan.

Yang pasti, catatan riwayat kesehatan tersebut sebenarnya merupakan hak pasien, meski peraturan tentang itu belum jelas. Menurut peraturan Menteri Kesehatan No. 749/Menkes/PER/XII/1989, definisi rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien, serta dibubuhi nama, waktu, dan tanda tangan petugas yang memberi pelayanan atau tindakan. Dokumen rekam medis merupakan milik dokter, dokter gigi, atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis merupakan milik pasien. Rekam medis disimpan dan dijaga kerahasiaannya oleh dokter atau dokter gigi dan pimpinan sarana kesehatan.

Menurut Marius ketidakjelasan bunyi peraturan terutama terletak pada pernyataan “Dokumen rekam medis merupakan milik dokter, dokter gigi, atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis merupakan milik pasien. Rekam medis disimpan dan dijaga kerahasiaannya oleh dokter atau dokter gigi dan pimpinan sarana kesehatan.” “Nah, isi yang mana, apa yang disimpan di rumah sakit tidaklah jelas.”

Sekalipun begitu, kita tak perlu khawatir karena masalah rekam medis ini sekarang sedang dibahas dan digodok di Departemen Kesehatan. Kita doakan saja mudah-mudahan para pengambil keputusan mendapat jalan keluar yang terbaik.

MANFAATKAN BUKU IBU

Pendapat dr. Mahlil Ruby, M.Kes akan masalah ini pun tak jauh berbeda. Sesuai penuturan dokter dari Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, rekam medis adalah milik pasien hanya saja disimpan di rumah sakit atau di tempat praktik dokter. “Jadi tidak ada alasan bagi siapa pun menghalangi pasien mengetahui rekam medisnya. Cuma bila pasien ingin meminta catatan itu, ia akan mendapat kopinya sementara yang asli tetap disimpan di rumah sakit, klinik atau pada dokter. Itu memang sudah peraturannya.”

Tentu rekam medis ini banyak gunanya. Saat ibu hamil pindah dokter, rekam medis akan mempermudah dokter baru dalam melakukan pemeriksaan, menegakkan diagnosis, dan melakukan perawatan.

Mahlil menambahkan, dokter baru wajib bertanya kepada dokter lama jika ada sesuatu yang kurang jelas di medical record dan dokter lama wajib menjelaskan.

Bagi ibu hamil, riwayat kehamilan dari A-Z penting sekali. Oleh karenanya, beberapa rumah sakit/klinik/dokter sudah membekali buku catatan yang bisa dibawa pulang pasien yang isinya tak berbeda jauh dari medical record. Di situ akan tertulis tanggal pemeriksaan, pemeriksaan yang telah dilakukan, keluhan-keluhan ibu, diagnosis yang sudah ditegakkan, terapi yang sudah dilakukan, vitamin dan obat yang sudah diresepkan, serta catatan tensi darah juga BB ibu setiap kali kontrol. Tidak cuma itu hasil-hasil pemeriksaan laboratorium dan USG akan dilampirkan di buku tersebut. Nah, buku ini sebaiknya dibawa ke mana pun ibu hamil pergi.

Gazali Solahuddin. Foto: Dok. nakita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s