Apa daya jika harapan tak sesuai dengan kenyataan? Si bayi lahir dengan tubuh tidak sempurna. Ia memiliki kelainan pertumbuhan struktur di kala masih berupa janin. Jika kelainan bawaan ini sangat parah, dalam hitungan hari atau bulan-bulan pertama kehidupannya, si bayi mungkin tak mampu bertahan hidup.

Melalui USG, sebetulnya kelainan bawaan (kongenital) sudah dapat diketahui di trimester pertama kehamilan. Dokter yang menemukan adanya kelainan, wajib membica-rakan hal ini dengan pasiennya. Terutama mengenai kemungkinan penyebab, langkah-langkah penanganan yang bisa ditempuh, dan bagaimana menyiapkan mental orangtua.

Pemeriksaan untuk menemukan kelainan kongenital dapat dilakukan selagi bayi masih dalam kandungan maupun sesaat sesudah dilahirkan. Pemeriksaan semasa hamil umumnya dilakukan atas indikasi medis karena ibu memiliki faktor risiko. Antara lain usia ibu saat hamil di atas 35 tahun, memiliki riwayat kehamilan yang buruk seperti pernah melahirkan bayi dengan kelainan kongenital ataupun riwayat adanya kelainan kongenital dalam keluarga.

Inilah jadwal pemeriksaan yang lazim dilakukan:

USIA 11-14 MINGGU

* USG

Pemeriksaan USG bisa mendeteksi secara dini berbagai kelainan yang mungkin terjadi pada janin. Pada trimester pertama, sekitar 85% dari semua kelainan bawaan janin sudah dapat terlihat/terdeteksi. Dengan semakin canggihnya peranti ultrasonografi, upaya skrining dan diagnostik dapat dilakukan dengan baik pada usia kehamilan 11-14 minggu.

USIA 15-20 MINGGU

* Amniosentesis

Jika diketahui ada gejala mencurigakan, amniosentesis atau pengambilan cairan ketuban umumnya dilakukan pada usia kandungan 15-20 minggu. Ini dilakukan untuk menilai kondisi sel janin dengan cara menyuntikkan jarum khusus ke perut/rahim.

USIA 10-12 MINGGU

* Villi khorialis

Pengambilan sampel villi khorialis dilakukan pada usia kehamilan 10-12 minggu. Ini dilakukan dengan cara pengambilan jaringan plasenta (ari-ari) dalam jumlah yang sangat kecil. Villi khorialis yang merupakan bagian dari plasenta inilah yang dijadikan materi pemeriksaan DNA. Pengambilan jaringan janin dari plasenta ini dilakukan dengan menusukkan jarum melalui jalan lahir atau dinding perut ke dalam kandungan menembus plasenta. Efek samping yang mungkin timbul dari pengambilan sampel plasenta ini adalah kram, perdarahan, dan infeksi. Tentu saja dokter kebidanan dan kandungan akan mempertimbangkan segalanya secara matang sebelum melakukan tindakan ini.

HINDARI PENYEBAB

Penyebab cacat fisik pada janin cukup beragam yang sebagian dapat kita cegah:

* Rokok, alkohol, narkotika

Beberapa zat berbahaya seperti rokok, alkohol atau narkotika dipastikan bisa berdampak tidak baik bagi janin. Berbagai penelitian menunjukkan, rokok dan alkohol bisa mengakibatkan keguguran, bayi lahir dengan berat lahir rendah, lahir prematur, cacat, maupun lahir dalam keadaan sudah tak bernyawa. Yang sering terabaikan adalah ibu sebagai perokok pasif. Oleh karenanya rumah maupun kantor ibu juga harus bebas dari asap rokok.

* Obat-obatan

Mengonsumsi obat-obatan juga tidak boleh sembarangan karena kandungannya mungkin saja membahayakan kehamilan. Beberapa jenis obat dan jejamuan yang diminum wanita hamil pada trimester pertama kehamilan diduga sangat erat hubungannya dengan terjadinya kelainan kongenital pada janin. Inilah alas an mengapa selama kehamilan, khususnya trimester pertama, ibu hamil amat dianjurkan untuk menghindari pemakaian obat-obatan tanpa berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter kebidanan dan kandungan yang menanganinya.

* Faktor usia

Semakin tua usia ibu hamil, semakin banyak komplikasi penyakit yang mungkin diderita. Di antaranya semakin tinggi risiko melahirkan bayi dengan Down Syndrome (DS).

* Faktor hormonal

Faktor hormonal diduga memiliki keterkaitan dengan kejadian kelainan kongenital. Bayi yang dilahirkan oleh ibu hipotiroid maupun ibu penderita diabetes melitus lebih besar peluangnya mengalami gangguan pertumbuhan dibandingkan bayi yang dilahirkan oleh ibu tanpa gangguan hormonal.

* Faktor gizi

Pada hewan percobaan, kekurangan gizi berat dalam masa kehamilan dapat menimbulkan kelainan kongenital. Pada manusia, penelitian menunjukkan bahwa frekuensi kelainan kongenital pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang kekurangan zat-zat tertentu lebih tinggi bila dibandingkan dengan bayi-bayi yang lahir dari ibu yang status gizinya baik. Kekurangan asam folat dan seng/zinc, contohnya, akan menyebabkan bibir bayi sumbing.

* Paparan zat kimia dan radiasi

Makanan atau apa saja yang masuk ke tubuh seorang ibu hamil akan menemukan jalan menuju janin yang sedang tumbuh dalam kandungan. Dengan demikian harus diperhatikan zat-zat kimia pada makanan dan lainnya yang dapat mengancam kehamilan. Hindari mengonsumsi atau menggunakan bahan-bahan yang memungkinkan ibu terpapar bahan-bahan kimia seperti obat makanan (daging, ikan, sayur, buah dalam kaleng dengan pengawet dan pewarna), antihama/insektisida, cat rambut, make up wajah dengan merkuri dan timbal, uap pernis dan cat.

* Faktor infeksi

Infeksi yang terjadi terutama pada trimester pertama disamping dapat menimbulkan kelainan kongenital dapat pula meningkatkan risiko keguguran. Contohnya, infeksi virus rubella dapat menyebabkan bayi menderita katarak, mengalami kelainan pada sistem pendengaran, dan kelainan jantung bawaan. Beberapa infeksi lain yang dapat menimbulkan kelainan kongenital antara lain infeksi virus sitomegalovirus dan toksoplasmosis. Jika sampai mengganggu pertumbuhan pada sistem saraf pusat maka dapat menyebabkan hidrosefalus (lingkar kepala membesar akibat timbunan cairan) atau mikrosefalus (lingkar kepala terlalu kecil atau dikenal dengan istilah mikroftalmia).

* Kelainan genetik/kromosom

Kelainan genetik pada ayah atau ibu kemungkinan besar akan memberi kontribusi yang tidak kecil pada kelainan kongenital anak mereka. Kemajuan teknologi kedokteran memungkinkan pemeriksaan adanya kelainan kromosom selagi masih berbentuk janin. Contohnya, kelainan kromosom trisomi 21 yang terwujud sebagai sindroma Down (mongolism) ataupun kelainan pada kromosom kelamin yakni sindroma Turner.

* Radiasi

Paparan radiasi sinar X dan radiasi nuklir terutama pada awal kehamilan diduga kuat dapat menimbulkan kelainan kongenital. Adanya riwayat radiasi yang cukup besar dikhawatirkan akan mengakibatkan mutasi pada gen dan menyebabkan kelainan. Itulah mengapa radiasi untuk keperluan diagnostik atau pengobatan sekalipun sebaiknya dihindari semasa kehamilan, khususnya kehamilan trimester pertama.

* Faktor-faktor lain

Banyak kelainan kongenital yang tidak diketahui penyebabnya. Kondisi janin dan faktor lingkungan hidup dalam rahim juga diduga dapat menjadi faktor penyebab. Di antaranya masalah hipoksia, hipotermia, ataupun hipertermia.

Ada kalanya suatu kelainan kongenital belum terlihat pada waktu lahir, dan baru ditemukan beberapa waktu kemudian. Bila ditemukan dua atau lebih kelainan kongenital minor, sangat mungkin akan ditemukan kelainan kongenital mayor di tempat lain. Angka kejadian kelainan kongenital berkisar 15 per 1.000 kelahiran.

MENCEGAHNYA?

Selain berusaha menghindari berbagai faktor penyebab, ada baiknya calon ibu juga melakukan langkah pencegahan ini:

* Mengonsumsi asam folat

Kekurangan suplementasi asam folat bisa menyebabkan kelainan tabung saraf (neural tube defects) pada bayi. Karena itu, sebaiknya asam folat dikonsumsi beberapa bulan sebelum kehamilan. Namun tidak terlambat juga jika suplemen baru dikonsumsi di minggu-minggu pertama kehamilan. Asam folat alami bisa didapat dari sayuran berwarna hijau tua, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Namun berhubung kebutuhan pada masa kehamilan cukup tinggi, ibu dianjurkan menelan suplemen asam folat setiap hari.

* Konseling genetik

Bila silsilah keluarga memper-lihatkan ada keluarga langsung yang memiliki riwayat kehamilan dengan kelainan kongenital sebaiknya segera lakukan konseling genetik sebelum merencanakan kehamilan. Ingat, kecacatan bisa diturunkan secara genetik.

* Pola hidup sehat

Upayakan untuk menerapkan pola hidup sehat. Hentikan merokok dan hindari asap rokok maupun zat-zat berbahaya lainnya demi tumbuh-kembang janin. Konsumsilah hanya makanan yang betul-betul sehat. Hindari daging merah mentah atau setengah matang, seperti sate, steik, dan sejenisnya karena kuman penyakit bisa saja masih hidup di dalamnya. Jika ibu suka lalap mentah, cucilah dulu hingga bersih dengan air mengalir. Menu sushi atau sashimi tidak dilarang tetapi harus terjamin kesegaran dan kebersihannya.

* Tidak sembarangan minum obat

Konsultasikan dengan dokter bila membutuhkan terapi obat-obatan.

* Jalani pengobatan

Bila terdeteksi ada toksoplasma atau lainnya, segera jalani pengobatan semestinya secara tuntas agar kehamilan berjalan lancar dan bayi terlahir sehat serta sempurna

3 responses »

  1. kiki mengatakan:

    sayangnya tidak banyak dokter yang mau bersungguh 2 memperhatikan bayi dalam pemeriksaan usg, mereka cenderung cepat2 saja dan tidak banyak berkomentar dan memarahi balik jika kita banyak bertanya…
    pasiennya sudah ngantri sih…

  2. herlina silvia mengatakan:

    iya terkadang mang ada dokter yang begitu, kalau ditanya marah,menendakan dr. kurang profesional…..tapi kadang juga ga semuanya dr. kaya gitu….
    buat tim dr. berilah kenyamanan bagi ibu2 yang ingin mengetahui keedaan janinnya.

  3. santi mengatakan:

    dokter itu harus memperhatikan pasiennya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s