Kendati tidak berbahaya, penggunaan jamu selagi hamil tetap harus berada di bawah pengawasan dokter kandungan Anda.

“Untuk mengurangi rasa nyeri di pinggang, pakai jamu saja, Bu. Waktu hamil saya pun pakai jamu dan pilis, rasanya jadi segar dan nyaman, deh,” saran Ny. Dita pada Ny. Ririn. “Aduh, bagaimana, ya, bukannya tak ingin, tapi saya takut ada efek sampingnya terhadap kehamilan saya,” keluh Ny. Ririn atas saran yang diberikan tetangganya itu.

 

Sebenarnya, bolehkah wanita hamil mengkonsumsi jamu? Kebingungan seperti ini memang kerap terjadi. Di satu sisi takut terhadap efek sampingnya, namun di sisi lain tradisi seperti “mengharuskan” memakainya.

 

Menurut kepala Balitbangkes Depkes, Prof.Dr. Umar Fahmi Achmadi MPH, PhD, sebelum meyakini pentingnya jamu, ada baiknya mengetahui apa yang disebut jamu. Jamu, menurut Umar, obat alamiah yang berfungsi untuk menjaga kondisi kesehatan. “Bukan mencegah dan mengobati kemungkinan seseorang terkena penyakit. Yang digunakan untuk mengobati penyakit adalah obat-obatan.”

 

KEBIASAAN TURUN TEMURUN

 

Jamu yang merupakan ramuan bahan-bahan alam, terutama tumbuh-tumbuhan, entah itu dari kunyit, jahe, dan daun-daunan, kini tersedia dalam berbagai paket. Entah itu jamu perawatan kehamilan, bersalin, masa nifas, dan menyusui. Bentuknya pun bermacam-macam. Ada yang berbentuk serbuk, tablet, dan kapsul. Ada yang diseduh dengan air, diminum biasa atau ditempelkan/dibalurkan ke kulit.

 

Menggunakan jamu-jamuan sebetulnya merupakan kebiasaan turun temurun yang diwariskan dari nenek moyang. “Tentu saja ada manfaatnya, terbukti karena sampai saat ini masih terus berjalan,” jelas Prof.Dr. Sudarto Pringgoutomo , Ketua Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T) DKI Jakarta.

 

Hal ini dibenarkan juga oleh dr.Hj. Hasnah Siregar, Sp.OG, dari RSAB Harapan Kita, Jakarta. “Memang umumnya masyarakat kita masih ada yang meminum jamu-jamuan, baik kala hamil maupun setelah melahirkan.” Sayangnya, terang Hasnah, ilmu kedokteran belum pernah meneliti tentang kandungan bahan-bahan jamu tersebut.

 

Walaupun demikian, “Dunia kedokteran tidak terlalu ‘takut’ dengan zat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan tersebut. Bukankah bahan-bahannya seperti bahan makanan biasa? Ada kunyit, jahe, lengkuas, lempuyang. Kendati khasiat dari bahan-bahan tersebut belum diteliti.”

 

Justru karena dari alam itulah, imbuh Sudarto, zat-zat yang dikandungnya memiliki keseimbangan. “Nah, masalahnya, cara membuatnya bersih atau tidak? Begitupun dengan air yang digunakan untuk merebusnya. Jika membuatnya tak bersih, tentunya bisa menimbulkan gangguan atau infeksi.” Jadi, bahaya adanya infeksi itu bukan berasal dari unsur bahan jamunya.

 

Senada dengan hal tersebut, Hasnah yang ditemui secara terpisah pun mengkhawatirkan pengemasan jamu. “Tentunya ada zat yang digunakan untuk mengemasnya agar zat-zat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan tersebut tak lapuk dan tetap awet. Nah, zat-zat pengikatnya itulah yang ditakutkan.” Kecuali itu, juga bisa saja jamu dalam kemasan tersebut sudah berjamur, yang mungkin dapat membahayakan ibu hamil dan janinnya. Sebab, terang Hasnah, sangatlah sulit untuk mendeteksi jamur dalam kemasan jamu tersebut. “Kadang-kadang tidak dibuat tanggal expired-nya. Itu merupakan salah satu kelemahan jamu. Ditambah lagi, warna jamu tersebut yang cenderung berwarna gelap, sehingga sulit untuk membedakan apakah ia sudah berjamur atau belum. Adanya jamur baru bisa dideteksi biasanya dari akibat yang ditimbulkannya. Misalnya, si ibu menjadi demam setelah minum jamu,” ungkap Hasnah.

 

Memang, aku Sudarto, “Bisa saja jamu ini berjamur tapi tak kelihatan.” Jika tanggal kadaluarsa tidak dicantumkan, cobalah dilihat dari kemasannya. Ada jamu yang dikemas plastik transparan sehingga bisa terlihat bagaimana keadaan daun, batang, dan akarnya. Bila jamu berbentuk tablet akan ada perubahan warna, misalnya putih menjadi kekuningan.

 

Untuk lebih amannya, saran Hasnah, jika ibu ingin mengkonsumsi jamu, sebaiknya yang segar dan tidak dalam bentuk kemasan. “Dibuat sendiri lebih baik, sehingga lebih fresh, juga terjamin faktor higienisnya.”

 

PENGARUH PADA JANIN

 

Artinya, terang Sudarto, boleh saja mengkonsumsi jamu, asalkan memenuhi persyaratan higienis tadi. Juga sesuaikan dosisnya. “Untuk ibu hamil, tetap disertai pemeriksaan antenatal care pada ginekolognya.” Kemudian untuk melihat apakah jamu tersebut aman, bisa diukur apakah badannya terasa fit dan bugar setelah meminum jamu tersebut. “Jika sampai terjadi diare, berarti keseimbangannya terganggu di saluran cerna.” Nah, bila terjadi sesuatu yang tak normal seperti itu, segera hentikan. Entah itu berupa mual, keringat dingin, atau kulit merah-merah. “Jadi, ibu harus tanggap terhadap reaksi itu,” jelas Sudarto.

 

Tetapi ingat, saran Hasnah, sebaiknya ibu hamil tak sembarangan minum jamu. Jamu yang dibolehkan adalah yang berasal dari bahan tumbuhan yang tidak menggunakan obat sintetik. “Juga harus diperhatikan kondisi ibu. Misalnya, bila ia punya maag tentu tak kuat dengan zat-zat pada jamu tersebut.”

 

Lantas, apakah ada pengaruhnya pemakaian jamu pada janin? Sudarto tak yakin bahwa jamu akan mempengaruhi janin. “Sebab, semua zat makanan yang masuk dari usus akan dibawa oleh darah ke liver. Di sini semua racun yang masuk akan dinetralkan, yang dinamakan dengan detoksifikasi. Tentunya dengan catatan, liver itu sehat. Zat-zat yang bersifat racun oleh liver akan masuk ke darah lagi, lalu dioper ke ginjal, kemudian disaring dan dikeluarkan sebagai air seni,” jelas Sudarto.

 

Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Hasnah, “Sebetulnya, apa pun yang dimakan ibu, tak langsung diabsorbsi janin. Tapi melalui tahapan, dari usus ke pembuluh darah dan baru ke janin. Jadi merusak tidaknya jamu bagi janin banyak faktornya, dan hanya dapat dimonitor dengan ultrasonografi.” Jadi, untuk mengetahui, seperti kekhawatiran sebagian orang, apakah jamu membuat cacat secara langsung pada janin masih harus dibuktikan. “Belum tentu karena jamu, lo, bisa saja karena kromosom, infeksi, atau sebab lain.”

 

HARUS HATI-HATI

 

Lantas, mengapa oleh sebagian orang jamu perlu dikonsumsi? Bila dilihat dari medis, terang Hasnah, sebetulnya tak terlalu perlu. “Obat-obat dari dokter sudah cukup, kok. Selain itu, dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan pemeriksaan yang baik, itu sudah lebih dari cukup.” Walaupun demikian, Hasnah pun mengakui, karena jamu sifatnya sudah turun temurun sehingga tradisi tersebut akan sulit untuk dihilangkan begitu saja. “Apalagi ada keyakinan tertentu pada beberapa ibu hamil.” Sehingga dengan mengkonsumsi jamu tertentu membuatnya lebih tenang dan percaya diri dalam menjalani persalinan.

 

Namun demikian, “Tentunya pemberian jamu harus hati-hati. Apalagi bila ada riwayat keguguran, pernah melahirkan anak cacat, prematur, dan sebagainya. Terutama pada trimester pertama yang merupakan masa sangat rentan bagi kehamilan. Di masa itu, janin sedang membentuk organ-organ vital seperti mata, hidung, kuping, pertumbuhan otak, dan lainnya,” jelas Hasnah.

 

Mungkin pada trimester kedua bisa lebih longgar karena pembentukkan organ-organ janin sudah sempurna, tinggal mengembangkan dan meningkatkan pertumbuhannya. “Tapi meskipun demikian harus tetap berhati-hati. Karena terkadang ada jamu yang pedas dan membuat perut menjadi mulas. Dikhawatirkan akan mengakibatkan kelahiran prematur,” ujar Hasnah.

 

Nah, Bu, sebaiknya memang berhati-hati dan selalu berkonsultasi dengan dokter kandungan Anda.

 

 

 

Dedeh Kurniasih.

 

ANEKA JAMU PERAWATAN KEHAMILAN DAN PERSALINAN

 

* Jamu untuk masa kehamilan 1-3 bulan

 

Ambil temu, kemiling, kunyit, temulawak, mesoyi, bawang putih, kemukus, dan lempuyang secukupnya. Gilas bahan-bahan itu dengan diberi air secukupnya. Untuk mengurangi rasa pahit, tambahkan sedikit garam. Minumlah jamu ini sehari satu atau dua kali.

 

* Jamu untuk masa kehamilan 3-6 bulan.

 

Disebut jamu wejah. Bahannya terdiri dari: daun jambu biji yang masih muda, daun jambu tersana (jambu warna merah dan padat, tapi bukan jambu air), lalu daun meniran, sembukan, temu hitam, lempuyang, dan kunyit. Takarannya secukupnya, tak terlalu banyak dan tak terlalu sedikit, agar rasanya seimbang. Tambahkan gula merah atau gula batu agar rasanya enak.

 

* Jamu untuk masa kehamilan 7-8 bulan

 

Bahan: kayu manis sebesar jari, kayu secang seperempat koin dan dikerik. Lalu rendam pakai leri atau air cucian beras selama tiga jam. Jamu ini diminum setiap hari Senin dan Kamis.

 

Kemudian untuk hari Rabu dan Sabtu, minum jamu yang terdiri dari 3 biji cabe Jawa, 2 rimpang (akar/umbi) lempuyang. Tumbuk semua bahan dan beri air secukupnya. Tambahkan sedikit garam dan jeruk nipis.

 

* Jamu untuk kehamilan 9 bulan

 

Bahan: ambil ketumbar sejumput, 2 lembar daun trawas, jinten hitam, mesoyi, kulit udang yang dibakar sedikit, dan kulit ikan mimi dan mentuna. Semuanya dicampurkan dan digerus. Tambahkan sedikit garam dan air secukupnya. Setelah itu, saring dan airnya diminum. Jamu ini diminum satu kali seminggu.

 

Selain jamu tersebut, ada baiknya minum jamu komplang. Bahan: temulawak sebesar kepala ayam jago, diparut lalu diperas dan diberi minyak kelapa setengah sendok teh.

 

Boleh juga minum jamu cabe lempuyang. Bahan: dua rimpang lempu yang dan cabe Jawa dipotong-potong tipis. Kemudian jemur sampai kering. Tumbuk dan diayak. Selanjutnya, seduh pakai air hangat dengan ditambahi sedikit garam.

 

* Jamu sesudah persalinan

 

Bahan: laos, bawang putih, garam yang digoreng, digerus dan diberi air secukupnya. Minum sehari sekali. Jamu lain bisa berupa: ketumbar, cengkeh, jinten, misoyi, kayu manis, kencur, kedaung, kunyit, pala, temu giling, temu lawak, dan asam. Semua bahan digerus lalu diminum.

 

Sesudah 40 hari, minumlah jamu dengan bahan: musi, cabe Jawa, kemukus, klabet, jinten hitam, kedaung, kembang pala, dan kayu jangjang.

 

Dedeh

 

JANGAN DIMASUKKAN KE VAGINA

 

Sesudah persalinan, para ibu kerap memakai jamu semacam parem atau baluran. Entah itu yang ditempelkan di perut atau di dahi. Misalnya, polesan beras kencur yang berguna untuk menghilangkan rasa capai dan pegal-pegal. Cara kerjanya, zat-zat aktifnya akan meresap dalam kulit, masuk dan beredar di dalam darah. Otot-otot pun jadi tak tegang. “Bentuk jamu baluran semacam itu bersifat analgetik atau antisakit,” terang dr.Hj. Hasnah Siregar, Sp.OG.

 

Selain itu, ada juga jamu nifas yang diminum dan berbentuk serbuk yang dimasukkan ke vagina. “Ini kerap digunakan di beberapa daerah tertentu, dengan tujuan agar vaginanya menjadi kering dan kecil. Padahal jamu seperti ini bisa berbahaya dan menyebabkan vagina menjadi lengket atau sinekia.” Yang terpenting, terang Hasnah, untuk menjaga kesehatan dan kebugaran selama hamil dan setelah melahirkan adalah menjaga kebersihan.

 

Hasnah lebih menganjurkan setelah persalinan meminum jamu untuk melancarkan keluarnya ASI yang terbuat dari bahan daun katuk. Sedangkan jika ibu ingin segera mengembalikan bentuk tubuh ke bentuk semula, sebaiknya melakukan senam dan mengatur pola makan seimbang. Bukan jor-joran minum jamu, ya, Bu?

 

 

Dedeh

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s