Pada kasus kedaruratan tak perlu ada persetujuan pasien atas tindakan penyelamatan oleh dokter.

Tak sedikit kasus kelahiran bayi yang berujung pada tuntutan hukum lantaran terjadi kesalahpahaman antara pihak pasien dan dokter yang menangani proses persalinannya. Padahal, kejadian ini dapat dihindari kalau saja sejak sebelum persalinan, pihak pasien sudah mengetahui apa saja tindakan penyelamatan yang akan dilakukan dokter dan kemungkinan risiko cedera pada si bayi.

Bagaimanapun, proses persalinan tak dapat diduga. Adakalanya, ibu hamil yang memang sudah direncanakan melahirkan normal, harus menjalani proses persalinan di luar prediksi tersebut. Contohnya saja, bayi terhambat di jalan lahir. Tentu saja, hal-hal di luar rencana seperti itu perlu tindakan dokter untuk menyelamatkan sang bayi.

Dalam keadaan darurat, tidak semua tindakan penyelamatan itu memerlukan persetujuan dari pasien atau pihak keluarga pasien. Pertimbangannya, keselamatan sang bayi harus diutamakan. Sedangkan untuk kasus yang perlu kedaruratan, sudah merupakan keputusan (decision making) si dokter sendiri untuk melakukan tindakan penyelamatan. Misal, pada keadaan distosia bahu (bahu tersangkut) dan harus dilakukan pematahan tulang bahu dalam hitungan detik atau menit untuk keselamatan bayi. Jika tidak segera dikeluarkan, maka si bayi akan meninggal karena kepalanya sudah terjepit.

Jelas, dalam hal ini tak mungkin untuk minta izin pada pasien maupun keluarganya. Tak ada istilahnya inform concern atau kesepakatan mengenai risiko dari tindakan yang dilakukan dokter. Namun, setelah bayi lahir tentu perlu bagi orangtuanya untuk mendapatkan penjelasan dokter mengenai tindakan yang telah dilakukan, sehingga tak timbul kesalahpahaman.

Namun, ada juga kasus persalinan normal yang macet tapi masih dapat dibantu dengan alat seperti vakum dan forsep. Untuk tindakan seperti ini dokter masih dapat memberitahukan tindakan yang akan dilakukan dan kemungkinan risikonya. Pihak pasien mungkin akan setuju sehingga tindakan bisa segera dilakukan dan dalam beberapa menit bayi sudah keluar.

Namun, bila pasien tak setuju dan lebih menginginkan tindakan sesar, maka hal yang perlu dipertimbangkan pula oleh pasien antara lain masalah waktu. Bukankah untuk itu diperlukan persiapan ke kamar operasi, persiapan dokter, pemasangan alat infus, kateter, pemberian anestesi, persiapan ruang operasi, perut yang dibersihkan, dan lain-lain?

Paling cepat perlu waktu setengah jam untuk persiapan tindakan sesar. Itu pun dengan konsekuensi, kondisi bayi lebih jelek daripada tindakan dengan alat bantu vakum/forsep. Karena kalau divakum/forsep dalam waktu 5 menit bisa lahir, sementara untuk dilakukan tindakan sesar perlu waktu lebih lama. Padahal bila terlalu lama akan berpengaruh pada asupan oksigen bayi. Hal terburuk yang mungkin terjadi, bayi tak bisa tertolong.

Nah, berikut ini sejumlah tindakan dokter yang perlu diketahui oleh para ibu hamil dan pasangannya, serta kemungkinan risiko cedera pada si bayi, sebagaimana dipaparkan oleh dr. Rudiyanti, SpOG., dari RS Internasional Bintaro, Tangerang.

VAKUM

Alat bantu ini dipasangkan pada bagian terbawah dari kepala bayi. Penggunaan alat vakum dilakukan dengan syarat tertentu, yaitu bila ketuban sudah pecah, pembukaan sudah lengkap, posisi kepala bayi sudah di dasar panggul, dan janin dalam keadaan hidup. Kalau janin tidak segera dikeluarkan, kepalanya akan terjepit di antara tulang-tulang panggul ibu.

Risiko pada bayi:

Kepala terlihat lebih panjang. Sebetulnya bukan bentuk kepalanya, tapi karena adanya cairan di kulit kepala. Jika terjadi seperti itu kepala bayi didiamkan saja dan akan kembali seperti semula. Cairan yang ada di bawah kulit tersebut akan diserap oleh tubuh sendiri.

FORSEP

Alat bantu persalinan ini dipasangkan pada kepala bayi seperti mencapit, kemudian kepala akan ditarik keluar. Tindakan forsep diperlukan pada kondisi ibu sudah dipimpin untuk mengedan namun lebih dari satu jam bayi belum juga lahir. Tindakan forsep perlu persetujuan pasien.

Risiko pada bayi:

Akan tampak bekas alat tersebut pada bagian wajah bayi, namun nantinya akan hilang sendiri. Seperti jika tangan terjepit akan menimbulkan bekas jepitannya. Kecuali kalau posisi alatnya meleset, bisa menimbulkan luka pada bagian kepala yang dicapit.

SESAR

Pada persalinan normal yang kemudian secara tiba-tiba harus dilakukan tindakan sesar, karena adanya kemungkinan kepala bayi belum masuk sampai ke dasar panggul. Jadi, meski si ibu sudah mengedan, bayi tidak turun-turun ke dasar panggul. Selain itu, tindakan sesar juga dilakukan bila posisi bayi sungsang atau terjerat tali pusat. Tindakan sesar perlu persetujuan pasien.

Risiko pada bayi:

Bayi tidak menangis atau kekurangan oksigen. Dampaknya bisa terjadi gangguan perkembangan otak.

PEMATAHAN TULNG BAHU

Bila persalinan lancar dan kepala bayi sudah nongol, namun tiba-tiba ternyata bahunya nyangkut di jalan lahir atau istilahnya distosia bahu, maka dua jari dokter akan menekan bagian tulang bahu (clavicula) bayi sehingga bahunya bisa menekuk dan bayi bisa dikeluarkan. Cara seperti ini umum dilakukan terutama di luar negeri pada bayi ukuran besar dengan berat 4 kg ke atas. Setelah bayi lahir, biasanya dokter kandungan akan memberi tahu dokter anaknya.

Kasus distosia bahu tak bisa diprediksi sebelumnya. Meski sudah dilakukan USG, ada kemungkinan ukuran bahu bayi tak bisa dideteksi. Karena itu, kasus ini masuk kategori kasus yang perlu kedaruratan.

Risiko pada bayi:

Bayi akan mengalami patah tulang bahu, namun hal ini tak mengkhawatirkan. Karena setelah lahir, bayi akan dibebat selama 2 minggu untuk masa penyembuhan. Setelah itu kondisi bayi akan membaik kembali, tak ada kecacatan apa pun pada bahunya.

Catatan penting:

Pada kasus distosia bahu bila dilakukan penarikan kuat, maka risiko cedera pada bayi adalah terjadi sesuatu di persarafan di leher dan berakibat pula pada lemahnya otot lengan, misal.

MANIPULASI TANGAN

Bila saat persalinan yang keluar adalah bagian pantat atau kaki bayi terlebih dulu (sungsang) sementara kepala masih di bagian atas rahim, maka dilakukan manipulasi tangan. Bayi akan diputar sedemikian rupa secara perlahan agar lahir kepala terlebih dahulu, kemudian dilakukan penarikan. Tindakan ini tidak memerlukan persetujuan pasien karena sudah merupakan prosedur pertolongan lahir sungsang.

Risiko pada bayi:

Sebetulnya, bila ada indikasi bayi sungsang, dokter biasanya tak mengizinkan ibu untuk melahirkan normal. Pasalnya, bila dilakukan penarikan agar bayi keluar, tindakan ini membawa risiko cedera pada bayi. Antara lain, kepala bayi akan terjepit dalam waktu lama dan bisa menyebabkan perdarahan otak serta kekurangan oksigen. Selain juga berisiko patah paha.

Kriteria sungsang yang boleh lahir normal dengan dilakukan manipulasi tangan yaitu biasanya perkiraan berat badan bayi kurang dari 2.500 gram, pasien datang ke rumah sakit dengan pembukaan lengkap, kaki atau bokong bayi sudah keluar dari vulva, dimana ibu tidak sempat lagi dibawa ke ruang operasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s