1. KONTRAKSI

Kontraksi dibedakan menjadi kontraksi kuat dan kontraksi yang kurang berarti (berlangsung kurang dari 1 menit). Kontraksi yang kurang berarti umumnya terjadi beberapa minggu atau beberapa hari sebelum persalinan. Kontraksi ini lazimnya ditandai rasa nyeri yang tidak intens, baik waktunya maupun tingkat kenyeriannya. Sedangkan kontraksi yang kuat biasanya muncul hanya sekitar 2-6 jam atau sepanjang 24 jam menjelang persalinan. Rasa nyeri yang menyertai kontraksi kuat ini tentu saja sudah sedemikian hebat.

Tanda lain yang menyertai kontraksi ini adalah turunnya kepala janin ke rongga panggul. Bisa terjadi tak lama sebelum persalinan, bisa juga terjadi secara berulang beberapa minggu sebelum persalinan. Turunnya kepala janin ke rongga panggul biasanya dibarengi dengan rasa mulas, nyeri di bagian punggung maupun pinggang, dan keluarnya lendir bercampur bercak darah dari vagina.

* Yang harus dilakukan:

- Bila tenggang waktu antara kontraksi yang satu dengan kontraksi berikutnya masih terbilang lama (lebih dari 5 menit sekali) berarti waktu persalinan masih agak lama. Jadi, tak perlu bergegas ke rumah sakit/rumah bersalin. Ibu boleh tetap melakukan kegiatan sehari-hari sambil terus memantau perkembangan kontraksi selanjutnya.

- Di saat kontraksi semakin intensif dan teratur, segeralah ke rumah sakit/rumah bersalin. Meski boleh jadi perkiraan tanggal lahir dari dokter masih lama. Sangat mungkin sudah tiba saatnya bagi bayi segera lahir.

- Ingat, perkiraan tanggal lahir tidaklah selalu tepat. Bisa saja si kecil lahir 2 minggu sebelum atau sesudah tanggal perkiraan lahir.

- Agar tidak ada sesuatu yang ketinggalan sebaiknya persiapkan perlengkapan bersalin jauh-jauh hari. Di antaranya beberapa potong kain panjang, baju ganti berkancing depan agar nanti mudah menyusui, makanan kecil kesukaan, buku bacaan, dan perlengkapan si kecil saat dibawa pulang.

2. PEMBUKAAN

Kontraksi sesungguhnya biasanya akan disertai dengan pembukaan leher rahim yang semakin lama membuat bayi kian terdorong ke arah vagina siap dilahirkan. Pembukaan leher rahim umumnya berlangsung sekitar 2-3 jam disertai kontraksi kuat yang teratur selama 4-5 menit sekali dan berlangsung selama sekitar 1 menit. Bila su-dah muncul tanda ini segeralah berangkat ke rumah sakit/rumah bersalin. Jangan terlalu menunggu-nunggu, apalagi sampai pem-bukaan sudah mencapai 7 cm saat seorang ibu hamil seharusnya sudah berada di rumah sakit siap melahirkan.

Biasanya dokter akan menunggu pembukaan leher rahim secara alamiah sampai si ibu siap menjalani persalinan normal. Seberapa jauh pembukaan demi pembukaan terjadi akan terus dipantau. Pembukaan leher rahim ini biasanya akan terus mening-kat seiring dengan kontraksi yang semakin kuat. Bila kontraksi sudah terjadi setiap 2-3 menit sekali masing-masing selama 1,5 menit, itu pertanda pembukaan sudah semakin besar dan ibu semakin mendekati saat-saat menegangkan, yakni bersalin.

Tanda lain, ibu merasakan tekanan yang sangat kuat di bagian bawah punggung. Ditam-bah tekanan pada anus disertai dorongan untuk mengejan. Selain itu, ibu merasa sangat tidak nya-man karena kegerahan namun keringat yang keluar adalah keringat dingin.

Akan tetapi bila usia kandungan sudah melewati 38-40 minggu sementara pembukaan yang semestinya belum juga muncul biasanya ibu akan diberi obat perangsang kontraksi. Salah satunya dengan cara induksi yang bisa dilakukan dengan menggunakan polikateter, pemberian prostaglandin, atau infus mulas kalau mulut rahim memang sudah “matang”.

Dengan intervensi tersebut diharapkan muncul pola kontraksi yang seharusnya sehingga bayi bisa segera dilahirkan lewat persalinan normal. Tentu saja dokter akan memantau setiap 6 jam sekali lewat kardiotokografi (CTG). Bila lewat 6 jam tidak ada perubahan berarti sementara kondisi janin diindikasikan kurang baik, maka operasi sesar akan segera disiapkan. Bila janin memperlihatkan kondisi baik, induksi akan dilanjutkan 6 jam berikutnya. Namun bila tetap tidak ada perubahan berarti, induksi dikatakan gagal.

Tanda lain yang juga kerap muncul sesaat menjelang persalinan adalah kejang kaki. Ini dimungkinkan karena adanya pengeluaran lendir dan darah yang semakin banyak akibat banyaknya pembuluh kapiler yang pecah. Ibu hamil besar pun umumnya merasa mengantuk karena suplai oksigen ke otak berkurang akibat teralih ke organ-organ yang terkait erat dengan proses persalinan.

* Yang harus dilakukan:

- Berusaha tenang sekaligus bersikap kooperatif, terutama pada beberapa pemeriksaan yang dilakukan, seperti pemeriksaan suhu tubuh, air kemih, denyut nadi, tekanan darah, dan sistem pernapasan. Juga akan diperiksa dengan saksama apakah ada cairan ketuban yang keluar dan bagaimana kondisi air ketuban tersebut. Selain itu akan ditanyakan pula apakah terjadi per-darahan atau keluarnya lendir dari vagina. Pemantauan ter-hadap janin pun akan dilakukan, seperti mengetahui bagaimana posisi janin dan mendengarkan denyut jantung bayi melalui stetoskop atau menggunakan alat pantau janin.

- Jangan terkejut bila dokter akan melakukan pemeriksaan dalam guna mengevaluasi kemajuan pembukaan leher rahim.

- Amat disarankan agar ibu memesan kamar untuk bersalin sejak usia kandungan 7 bulan. Ini dimaksudkan untuk mengantisipasi bila terjadi kasus kegawatan sebelum perkiraan tanggal lahir sekaligus menghindari kamar di rumah sakit yang diinginkan si ibu hamil telanjur penuh.

3. MENGEJAN

Dalam proses persalinan normal ada 3 komponen yang amat menentukan, yakni passanger=bayi, passage=jalan lahir, dan power=kontraksi. Agar proses persalinan berjalan lancar, ketiga komponen tersebut harus sama-sama dalam kondisi baik. Bayi yang ukurannya tidak terlalu besar pasti lebih mudah melalui jalan lahir normal; jalan lahir yang baik akan memu-dahkan bayi keluar; kekuatan ibu mengejan akan mendorong bayi lebih cepat keluar.

Yang pegang kendali alias paling menentukan dalam tahapan ini adalah proses mengejan ibu yang dilakukan dengan benar, baik dari segi kekuatan maupun keteraturan. Ibu harus mengejan sekuat mungkin seirama dengan instruksi yang diberikan. Biasanya ibu diminta menarik napas panjang dalam beberapa kali saat kon-traksi terjadi lalu buang secara perlahan. Ketika kontraksi men-capai puncaknya, doronglah janin dengan mengejan sekuat mungkin. Bila ibu mengikuti in-struksi dengan baik, pecahnya pembuluh darah di sekitar mata dan wajah bisa dihindari. Begitu juga risiko berkurangnya suplai oksigen ke janin.

* Yang harus dilakukan:

- Mulai trimester dua sempatkan mengikuti senam hamil. Ini akan sangat membantu dalam melemaskan otot panggul, menguatkan napas, mengejan, dan sebagainya yang amat diperlukan saat persalinan tiba.

- Usahakan jangan tegang, tetapi tetaplah relaks dengan melemaskan seluruh otot tubuh. Ketegangan hanya akan menyulitkan di saat ibu harus mengejan.

- Jangan panik. Ikuti saja instruksi dengan baik. Kepanikan hanya akan membuat segalanya kacau karena dorongan jadi tidak teratur sementara tenaga terhambur sia-sia dan tidak efisien karena bayi malah jadi lebih susah lahir.

HARUS DISESAR BILA…

Meski sangat ingin, banyak ibu hamil yang tidak bisa menjalani persalinan normal hingga harus dibantu dengan operasi sesar. Ada beberapa alasan medis yang membuat ibu terpaksa menjalani operasi sesar:

* Kelainan power

Sangat mungkin ibu hamil tidak memiliki cukup power untuk mengejan. Ini biasanya dialami oleh ibu-ibu hamil yang sakit jantung atau asma yang membuat kemampuan mengejannya sedemikian lemah. Bisa juga akibat pengaruh dari penyakit lain.

* Kelainan passage

Kelainan passage atau jalan lahir bisa karena panggul sempit, tertutupnya jalan lahir oleh plasenta, atau terdapat infeksi di jalan lahir. Dikhawatirkan infeksi akan menular ke bayi seperti penyakit kelamin.

* Kelainan passanger

Kelainan passanger bisa karena ukuran bayi terlalu besar (lebih dari 4.000 gram) hingga tidak memungkinkan lahir per vaginam. Bisa pula karena posisi bayi sungsang, atau denyut janin kacau dan lemah. Ditakutkan ia tidak kuat melalui jalan normal.

Ketiga hal tersebut sudah diketahui sebelum persalinan. Itulah pentingnya ibu hamil menjalani beberapa pemeriksaan, baik kondisi kesehatan umum, pemeriksaan jalan lahir maupun pemeriksaan mengenai kondisi janin. Bila tidak, mungkin saja ibu jadi tersiksa merasakan mulas yang terlalu lama. Selain itu, persiapan operasi jadi serba terburu-buru Bila fasilitas lengkap tersedia di rumah sakit dan keluarga ibu tak mempermasalahkan soal biaya, tentu tak jadi masalah. Akan tetapi bagaimana bila rumah sakit tersebut fasilitasnya tak memadai sementara ibu juga tak punya cukup biaya?

JIKA LEWAT WAKTU

Persalinan harus tepat waktu, yakni di usia kandungan 38-40 minggu atau 294 hari dihitung dari hari pertama haid terakhir. Bila lewat disebut postdate atau lahir lewat waktu. Di Indonesia tercatat 3,5-14% kelahiran postdate dari total kehamilan per tahun. Berikut beberapa risiko pada ibu maupun bayinya bila lahir lewat waktu:

* Kulit rapuh

Kalau kondisi air ketuban masih cukup bagus, tetap saja bayi bisa terganggu yang disebut dengan stadium 1. Yang biasa terjadi, bayi kehilangan fernis casiosa, yakni lemak yang menutup seluruh permukaan kulitnya. Akibatnya, kulit bayi jadi licin, kering, rapuh, dan mudah mengelupas.

* Mengalami hipoksia

Meski kualitas air ketuban masih cukup bagus, namun bila jumlahnya makin sedikit dikhawatirkan akan membuat bayi sesak napas dan mengalami hipoksia. Pada stadium 2 ini kulit bayi akan berwarna hijau.

* Hipoksia sekaligus kuning

Air ketuban yang kian sedikit jumlahnya akan membuat gangguan hipoksia semakin parah. Kuku, kulit, dan tali pusatnya akan terlihat kuning. Pada stadium 3 ini proses penyembuhan/perawatannya pastilah makan waktu lama dan intensif. Terlebih bila paru-parunya sudah terganggu.

* Keracunan air ketuban

Menurunnya fungsi plasenta maupun berkurangnya jumlah air ketuban membuat angka kesakitan dan kematian pada bayi jadi tinggi. Plasenta dan air ketuban masih tetap berfungsi dengan baik sampai usia kehamilan 38 minggu. Lewat dari waktu ini air ketuban akan berubah warna menjadi hijau pekat yang bisa membuat bayi dan ibu terinfeksi. Kalau sudah begini, suhu tubuh si bayi jadi tidak stabil, mengalami hipoglikemi (kadar gula rendah), polisitemia (kelainan darah), dan kelainan neurologik akibat kualitas air ketuban yang buruk. Akibat selanjutnya, nilai APGAR-nya cenderung rendah.

* Gangguan psikologis dan perdarahan

Tak hanya bayi, ibu pun terganggu karena bila bayinya tak kunjung lahir tentu ia akan cemas. Kecemasan yang berlebih ini akan membuat ibu stres yang bisa berdampak pada kehamilannya, semisal terjadi perdarahan. Akumulasi masalah ini tentu akan mempersulit kelancaran persalinan.

Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, ibu harus melakukan antisipasi. Salah satunya dengan mencatat haid terakhir, hingga perkiraan tanggal melahirkan bisa dihitung secara lebih tepat. Meski dokter kebidanan dan kandungan bisa saja menghitung usia kandungan melalui USG. Selain itu, kunjungan ke dokter kebidanan dan kandungan secara teratur sesuai yang dijadwakan sangat penting dilakukan. Berdasarkan hasil pantauan dari setiap kunjungan tersebut gejala-gejala akan adanya kelainan/gangguan bisa lebih cepat terdeteksi. Di antaranya BB janin yang tak sesuai usianya, kualitas air ketuban dan fungsi plasenta yang memburuk. Dari hasil pantauan itu dokter kebidanan dan kandungan akan mengambil tindakan lebih lanjut bila ditemukan adanya pengapuran pada plasenta atau kehamilan sudah lewat bulan.

Irfan Hasuki. Ilustrator: Pugoeh

Konsultan ahli:

dr. Hj. Hasnah Siregar, Sp.OG.,

dari RSAB Harapan Kita, Jakarta

About these ads

One response »

  1. husein mengatakan:

    baguuuusssss

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s